Digitalisasi Manajemen Dakwah: Optimalisasi Jangkauan Pesan Keagamaan di Era 4.0

 

Era digital telah mengubah lanskap komunikasi secara fundamental, termasuk dalam praktik dakwah. Menyadari urgensi ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Mataram menyelenggarakan sebuah kegiatan: Workshop Digitalisasi Manajemen Dakwah bagi Penyuluh Agama Islam (PAI). Acara yang berlangsung pada Hari Kamis 30 Oktober 2025 bertempat di Hotel Grand Madani ini menjadi momen penting untuk membekali para Penyuluh Agama Islam Kota Mataram sebagai ujung tombak dakwah Kementerian Agama dengan perangkat dan strategi digital terkini.


Workshop ini diselenggarakan sebagai bentuk respons strategis terhadap tantangan dan peluang dakwah di abad ke-21. Di tengah banjir informasi dan pergeseran perilaku audiens ke ruang digital, kemampuan untuk mengelola, memproduksi, dan menyebarkan materi dakwah secara digital menjadi sebuah keharusan, bukan lagi pilihan.

Dibuka secara resmi oleh TGH Ahmad Muammar Nasrullah selaku Ketua MUI Kota Mataram, beliau menekankan bahwa digitalisasi harus dilihat sebagai ikhtiar penyempurnaan dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang moderat, sejuk, dan mencerahkan.


Para peserta, yang terdiri dari Penyuluh Agama Islam se-Kota Mataram, disajikan dengan kurikulum yang padat dan relevan. Materi pertama yang disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Mataram Bapak H. Hamdun, S.Ag, M.H.I. bertema Revitalisasi Peran dan Fungsi Penyuluh Agama Islam dalam Dakwah Era Digital.

Beliau menyampaikan bahwasanya Penyuluh Agama Islam (PAI) adalah garda terdepan dalam membimbing umat. Peran mereka, yang dulu terpusat di masjid, majelis taklim, dan pertemuan fisik, kini harus mengalami revitalisasi fungsi agar tetap relevan dan efektif di tengah arus digitalisasi.


Revitalisasi ini bertumpu pada pergeseran fungsi PAI dari sekadar penceramah menjadi produser konten digital yang mahir mengemas pesan-pesan keagamaan menjadi format yang sesuai dengan platform digital, seperti video pendek, infografis, dan podcast. Selain itu, PAI juga harus bertransformasi menjadi kurator informasi digital yang aktif memfilter dan melawan derasnya hoax dan informasi keagamaan yang menyesatkan.

Selanjutnya, dengan menguasai kemampuan mengemas pesan menjadi konten digital yang menarik dan mahir menggunakan platform media sosial untuk melawan hoax serta membangun komunitas, Penyuluh Agama dapat memastikan bahwa pesan dakwah yang sejuk dan moderat tetap relevan, terukur, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat di ruang digital.


Materi selanjutnya disampaikan oleh Bu Hj. Rahmi Kusbandiah, S.Ag, M.Pd.I dengan tema Manajemen Dakwah Penyuluh Agama yang Futuristic di Era Digital. Beliau menyampaikan bahwa aspek futuristic dalan dakwah di era digital tidak terlepas dari pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam proses kerja Penyuluh Agama. 

Meskipun AI tidak dapat menggantikan peran ulama dalam mengeluarkan fatwa, teknologi ini dapat digunakan untuk otomatisasi hal-hal manajerial, seperti membantu dalam merangkum materi ceramah yang panjang menjadi poin-poin singkat yang siap diunggah. Dengan adopsi teknologi ini, PAI tidak hanya akan menjadi penyebar ajaran agama yang efektif, tetapi juga seorang manajer informasi yang cerdas dan efisien, yang mampu mengelola sumber daya dakwah dan waktu secara optimal untuk menjangkau setiap individu di tengah kompleksitas kehidupan digital.

Pada akhirnya, workshop ini menegaskan komitmen institusional untuk memperkuat PAI sebagai garda terdepan yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga teknologi dan strategi manajemen modern untuk mengelola dakwah secara terstruktur, terukur, dan berdampak luas.







---
Baiq Rosmala Dewi
Penyuluh Agama Islam
KUA Kec. Sandubaya
Kantor Kementerian Agama Kota Mataram



Post a Comment

0 Comments