Takut Salah Pilih Pasangan? Belajar, Bukan Lari dari Pernikahan


Banyak anak muda hari ini tidak takut menikah karena komitmennya, tapi karena satu hal: takut salah pilih pasangan. Takut kecewa, takut gagal, takut mengulang kisah pahit orang lain. Ketakutan ini wajar. Namun, pertanyaannya: apakah rasa takut itu harus membuat kita menjauh dari pernikahan?

Atau justru menjadi alasan untuk belajar lebih serius sebelum menikah?

Takut Itu Fitrah, Tapi Jangan Jadi Alasan Menghindar

Rasa takut adalah bagian dari fitrah manusia. Takut gagal, takut salah langkah, takut tidak bahagia—semuanya manusiawi. Yang perlu disadari, takut bukan untuk dihindari, tapi untuk dikelola. Sayangnya, banyak orang memilih jalan pintas: menutup hati dari pernikahan. Padahal, menjauh bukan solusi. Karena sejatinya, hidup selalu penuh risiko—termasuk ketika memilih untuk tidak menikah.

Salah Pilih Terjadi Karena Kurang Ilmu, Bukan Karena Menikahnya

Banyak kisah pernikahan yang bermasalah sering dijadikan alasan untuk takut menikah. Namun, jarang yang jujur mengakui bahwa masalah itu sering berawal dari:

  • kurangnya pemahaman tentang tujuan pernikahan,
  • terburu-buru tanpa mengenal nilai dan visi hidup pasangan,
  • mengabaikan nasihat, doa, dan bimbingan.

Masalahnya bukan pada pernikahannya, tapi pada cara kita mempersiapkannya. Menikah tanpa ilmu ibarat berjalan jauh tanpa peta—bukan tidak mungkin sampai, tapi risikonya lebih besar.

Belajar Memilih, Bukan Menunggu yang Sempurna

Takut salah pilih sering kali berangkat dari keinginan menemukan pasangan yang sempurna. Padahal, kesempurnaan bukan syarat pernikahan. Yang penting adalah kesediaan untuk tumbuh bersama.

Belajar memilih pasangan berarti:

  • memahami nilai agama dan akhlaknya,
  • melihat cara menyelesaikan masalah, bukan hanya cara mencintai,
  • menilai kesiapan tanggung jawab, bukan sekadar perasaan.

Cinta saja tidak cukup. Pernikahan butuh kesadaran, kedewasaan, dan komitmen.

Istikharah: Menyerahkan Pilihan pada Yang Maha Mengetahui

Ketika rasa ragu datang, Islam tidak menyuruh kita berhenti melangkah. Allah justru mengajarkan istikharah—bukan untuk mencari jawaban instan, tapi untuk menenangkan hati. Istikharah bukan berarti hidup tanpa usaha. Ia adalah perpaduan antara ikhtiar maksimal dan penyerahan total. Setelah belajar, bertanya, dan mempertimbangkan, barulah hati dititipkan pada Allah.

Jangan Lari, Tapi Persiapkan Diri

Jika hari ini masih takut menikah, tidak apa-apa. Namun, jangan jadikan ketakutan itu alasan untuk berhenti belajar dan memperbaiki diri. Karena menikah bukan tentang menemukan orang yang tidak mengecewakan, tapi tentang menjadi pribadi yang siap menghadapi kenyataan hidup bersama

Takut salah pilih pasangan? Wajar.
Tapi solusinya bukan lari dari pernikahan—melainkan belajar, berdoa, dan memantaskan diri.


Post a Comment

0 Comments