Tahukah kamu? Bahwasanya tidak ada perjalanan agung tanpa latar belakang yang penuh ujian. Begitu pula dengan peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ. Perjalanan luar biasa ini tidak datang di masa senang, melainkan justru hadir di titik terendah kehidupan Rasulullah ﷺ. Sebuah pesan penting bagi kita: pertolongan Allah sering datang saat manusia merasa paling lemah.
Tahun Kesedihan (‘Aamul Huzn)
Isra Mi’raj terjadi setelah Nabi Muhammad ﷺ melewati masa yang sangat berat, yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai ‘Aamul Huzn (Tahun Kesedihan). Pada tahun ini, Rasulullah ﷺ kehilangan dua sosok penting sekaligus:
Wafatnya Khadijah r.a: Khadijah bukan hanya istri, tetapi penopang dakwah, penguat mental, dan tempat Rasulullah ﷺ mencurahkan segala beban. Dari hartanya dakwah tumbuh, dari kelembutannya Nabi mendapat ketenangan.
Wafatnya Abu Thalib: Abu Thalib adalah pelindung Nabi ﷺ dari tekanan kaum Quraisy. Meski tidak beriman, ia berdiri teguh membela keponakannya. Setelah wafatnya Abu Thalib, perlindungan sosial terhadap Nabi ﷺ pun melemah.
Kehilangan dua figur ini membuat Rasulullah ﷺ benar-benar sendiri secara manusiawi: kehilangan cinta, kehilangan perlindungan, dan kehilangan sandaran duniawi.
Penolakan di Thaif: Luka di Atas Luka
Belum cukup dengan duka, Nabi ﷺ kemudian pergi ke Thaif untuk menawarkan Islam. Namun yang beliau dapatkan bukan sambutan, melainkan: Caci maki, Penolakan keras, Lemparan batu hingga kaki beliau berdarah.
Di tengah luka fisik dan batin itulah, Allah memperjalankan Nabi Muhammad ﷺ dalam peristiwa Isra Mi’raj. Seolah Allah ingin menghibur insan paling mulia:
“Jika bumi menolakmu, maka langit-Ku terbuka untukmu.”
Isra Mi’raj menjadi penghiburan ilahi, penguatan mental, dan peneguhan misi kenabian. Allah tidak mengutus malaikat untuk sekadar menyampaikan pesan, tetapi memanggil Nabi-Nya langsung menghadap kepada-Nya.
Pelajaran Penting bagi Kita
Dari latar belakang Isra Mi’raj, kita belajar bahwa: Ujian hidup bukan tanda Allah membenci, Kesedihan bukan akhir segalanya, Setelah kesabaran, selalu ada pertolongan Allah. Sering kali, jalan ke atas justru dimulai dari posisi paling bawah.
Refleksi untuk Zaman Sekarang
Di zaman sekarang, banyak orang merasa: Lelah secara mental, Kehilangan semangat, Merasa tidak dihargai atau ditinggalkan. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa: Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang tetap bertahan di jalan-Nya.
Boleh jadi manusia tidak memahami kita, tapi Allah Maha Mengetahui setiap air mata dan doa yang terucap dalam diam. Isra Mi’raj bukan hanya tentang perjalanan Nabi ﷺ menembus langit, tetapi tentang harapan di tengah keputusasaan. Saat dunia terasa sempit, Allah menunjukkan bahwa langit-Nya selalu luas.
Semoga kisah ini menguatkan kita untuk tetap istiqamah, meski jalan terasa berat.


0 Comments