Menikah Butuh Niat yang Lurus, Bukan Sekedar untuk Pindah Status

 


Pernikahan... Kata ini seringkali menjadi tujuan akhir banyak orang, seolah semua masalah akan selesai begitu status 'lajang' berganti 'menikah'. Desakan usia, pertanyaan "kapan nyusul?", hingga godaan media sosial yang menampilkan kebahagiaan semu seringkali membuat kita tergesa-gesa.

Namun, sebagai seorang Muslim/Muslimah yang serius akan membangun rumah tangga, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apakah niat saya menikah sudah lurus?

Menikah itu bukan sekadar pindah status atau menuruti tren. Menikah adalah ibadah terpanjang, gerbang menuju Surga (atau neraka, nauzubillah), dan fondasi utama pembentukan generasi Rabbani. Tanpa niat yang lurus, bahtera rumah tangga bisa oleng bahkan karam di tengah jalan.

Mengapa Niat yang Lurus Itu Sangat PENTING?

Dalam Islam, niat adalah penentu kualitas dan pahala setiap amalan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu pula dengan pernikahan. Jika niatnya murni karena Allah, maka seluruh prosesnya – dari akad hingga setiap detik kehidupan berumah tangga – akan bernilai ibadah dan mendatangkan keberkahan.

Jebakan Niat "Pindah Status" yang Harus Dihindari:

Banyak yang terjebak pada niat-niat duniawi yang rapuh. Mari kita kenali agar kita bisa menghindarinya:

1. "Pindah Status" Karena Desakan Sosial:

Contoh Niat: "Aku harus segera nikah karena umurku sudah kepala tiga, semua teman sudah nikah, biar tidak ditanya-tanya lagi."

Akibat: Pernikahan terasa seperti beban, bukan anugerah. Pasangan dipilih berdasarkan kriteria "asal ada" atau "asal cepat", bukan berdasarkan kesesuaian nilai agama dan karakter. Saat masalah datang, akan mudah menyerah karena fondasi niatnya bukan cinta karena Allah.

2. "Pindah Status" Karena Ingin Kebebasan Semu (Hanya Suka-Suka):

Contoh Niat: "Aku mau nikah biar bisa bebas jalan berdua, bebas ngapa-ngapain sama pasangan, tanpa dicibir orang."

Akibat: Fokus pada kesenangan semata. Ketika tantangan hidup muncul (finansial, konflik, kehadiran anak), niat ini akan luntur. Pernikahan bukan lagi tempat berbagi dan berjuang, tapi hanya ajang memuaskan diri.

3. "Pindah Status" Hanya Karena Harta atau Fisik:

Contoh Niat: "Aku mau nikah sama dia karena dia kaya/cantik/ganteng, statusnya mentereng, pasti hidupku enak."

Akibat: Ini adalah niat paling rapuh. Kecantikan akan memudar seiring usia, harta bisa habis, dan jabatan bisa hilang. Jika hanya itu yang dicari, maka kebahagiaan pun akan ikut menghilang. Ingatlah hadis Nabi SAW tentang memilih pasangan karena agama.

Meluruskan Niat: 3 Pilar Utama Pernikahan Muslim

Jadi, bagaimana niat yang lurus itu? Berikut adalah pilar-pilar yang harus kokoh dalam hati:

1. Mencari Ridha Allah SWT dan Menjalankan Sunnah Rasulullah SAW:

Ini adalah niat tertinggi. Setiap langkah dalam pernikahan, dari mencari pasangan hingga membesarkan anak, adalah bentuk ketaatan kepada Allah dan upaya mengikuti jejak Rasulullah SAW. Tujuannya adalah meraih Surga-Nya.

2. Menjaga Kesucian Diri (Iffah) dan Menyempurnakan Separuh Agama (Ikmalu Nishfi Ad-Din):

Niatkan untuk membentengi diri dari perbuatan maksiat, menundukkan pandangan, dan menjaga kemaluan. Pernikahan adalah wadah halal untuk menyalurkan fitrah manusiawi dan meraih ketenangan jiwa.

3. Membentuk Keluarga Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah untuk Melahirkan Generasi Rabbani:

Niatkan untuk membangun rumah tangga yang penuh ketenangan, cinta, dan kasih sayang yang berlandaskan iman. Targetnya bukan hanya kebahagiaan duniawi, tetapi juga melahirkan dan mendidik anak-anak yang saleh/salihah, menjadi penerus dakwah Islam, dan menjadi investasi amal jariyah di akhirat.

Jadikan Niat Sebagai Kompas Hidup Berumah Tangga

Ketika Anda menikah dengan niat yang lurus, Anda akan menemukan bahwa setiap ujian dalam pernikahan adalah kesempatan untuk meraih pahala, setiap pengorbanan adalah bentuk ibadah, dan setiap konflik adalah cara untuk saling belajar dan menguatkan.

Suami istri bukan sekadar sepasang kekasih, melainkan dua jiwa yang bersatu dalam misi suci untuk saling mendukung meraih Surga-Nya.

Jadi, sebelum melangkah ke pelaminan, tataplah cermin, tanya hati nurani Anda: Sudah luruskan niat saya menikah? Apakah ini hanya sekedar pindah status, ataukah sebuah perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah?

Mari benahi niat kita, agar pernikahan kita tidak hanya indah di mata manusia, tapi juga diberkahi oleh Allah SWT.

Wallahu a'lam bish-shawab.



-rosmala

Post a Comment

0 Comments