Keluarga yang harmonis bukanlah keluarga yang tidak pernah bertengkar, melainkan keluarga yang tahu cara bertengkar dengan elegan—tanpa air mata berlebihan, bentakan keras, atau drama yang berkepanjangan.
--
Konflik sering dianggap sebagai pertanda buruk dalam sebuah pernikahan, padahal kenyataannya, keluarga harmonis bukanlah yang bebas dari pertengkaran, melainkan yang mahir mengelolanya. Mengubah perselisihan menjadi diskusi yang sehat adalah sebuah seni yang vital. Namun, pasangan suami istri sering terhadang oleh tantangan besar, seperti komunikasi yang buruk—mulai dari menghindari masalah (silent treatment) hingga menyerang secara defensif. Tantangan ini diperparah oleh kesulitan mengendalikan emosi, tingginya ego yang membuat sulit mengakui kesalahan, serta gangguan eksternal seperti campur tangan pihak ketiga.
Untuk menghindari drama dan kerusakan jangka panjang, pasangan perlu memahami bahwa tujuan konflik bukanlah untuk menang, melainkan untuk mencari solusi dan memperkuat ikatan. Seni ini melibatkan pemilihan waktu dan tempat yang tepat untuk berdiskusi, fokus pada masalah spesifik bukan menyerang karakter pasangan, dan yang terpenting, mendengarkan secara aktif untuk memahami alih-alih mempersiapkan balasan. Dengan komitmen, empati, dan kesediaan untuk membuat batasan yang jelas, setiap pasangan dapat mengubah konflik menjadi peluang untuk bertumbuh bersama, menjadikan rumah sebagai safe space yang nyaman bagi semua anggota keluarga.
Bagaimana caranya mengubah pertengkaran menjadi sesi diskusi yang sehat?
1. Pilih Waktu Komunikasi yang Tepat
Jangan pernah membahas masalah besar saat Anda atau pasangan sedang lapar, lelah, atau baru pulang kerja. Otak yang lelah tidak bisa berpikir jernih.
Beberapa psikolog menyarankan untuk menunda membahas masalah selama 24 jam. Gunakan waktu ini untuk mendinginkan kepala dan merumuskan apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan.
Jangan membahas masalah di depan anak-anak atau di tempat umum. Cari tempat yang tenang dan pribadi.
2. Fokus pada Masalah yang Dibahas, Bukan yang Lain
Kunci anti-drama yang kedua adalah pastikan selalu fokus pada masalahnya, bukan orangnya. Alih-alih melontarkan tuduhan, fokuslah pada tindakan atau situasi yang membuat Anda terganggu.
Jangan pernah bilang: "Emang yaa, kamu tu enggak pernah peduliin aku!", melainkan ubahlah menjadi "Saya merasa kurang nyaman atas perilaku mu yang ini, bagaimana kalau....." (Fokus pada masalah dan perasaan Anda).
3. Bukan tentang Siapa yang Menang, tapi Masalah Harus Diselesaikan
Saat berkonflik, seringkali kita tergoda untuk 'menang' argumen. Padahal, dalam pernikahan, jika salah satu kalah, maka hubungan itu sendiri yang kalah.
Berikan perhatian penuh saat pasangan berbicara. Mengangguk dan mengulang poin mereka ("Jadi, maksud kamu...") menunjukkan bahwa Anda menghargai perspektif mereka.
4. Jauhi Kata "Selalu" dan "Tidak Pernah"
Kata-kata hiperbola seperti "Kamu selalu begini!" atau "Kamu tidak pernah mendengarkan saya!" hanya akan memicu pasangan menjadi defensif.
Kata-kata ini tidak akurat dan membuat pasangan merasa semua usaha baik mereka selama ini diabaikan. Jika Anda ingin menyelesaikan masalah, gunakan bahasa yang spesifik dan jujur.
Kesimpulannya: Mengelola konflik tanpa drama memerlukan latihan dan kesabaran. Ingatlah, Anda dan pasangan berada di tim yang sama. Tujuan akhir setiap konflik seharusnya adalah memperkuat ikatan dan mencari solusi terbaik, bukan saling menjatuhkan.


2 Comments
Hallo Umaaa....
ReplyDeletemasyaallah rofiii
Delete