Kesalahan Umum dalam Wudhu yang Sering Dianggap Sepele

Wudhu adalah syarat sah shalat. Namun dalam praktik sehari-hari, banyak di antara kita yang berwudhu hanya sekadar “membasahi anggota badan”, tanpa memperhatikan tuntunan yang benar. Padahal, kesalahan kecil dalam wudhu bisa berdampak pada sah atau tidaknya shalat kita.

Berikut beberapa kesalahan umum dalam wudhu yang sering terjadi di masyarakat:

1. Tidak Meratakan Air ke Seluruh Anggota Wudhu

Masih sering kita temui air wudhu tidak sampai ke sela-sela jari tangan dan kaki, atau bagian tumit yang kering. Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan tentang bahaya tumit yang tidak terkena air wudhu.

Dari ‘Abullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, Abu Hurairah, dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah tumit yang tidak terbasuh air wudhu dengan api neraka.” (HR. Bukhari, no. 165 dan Muslim, no. 241)

Pelajaran: Pastikan air benar-benar merata, terutama pada bagian yang sering terlewat.

2. Menganggap Niat Harus Dilafalkan

Niat wudhu tempatnya di dalam hati. Melafalkan niat bukanlah syarat sah wudhu. Banyak orang ragu wudhunya sah karena tidak membaca niat dengan lisan. 

Niat wudhu dibaca saat memulai, bisa diucapkan dalam hati bersamaan dengan membasuh wajah pertama kali, dengan lafal Arab: 

"نَوَيْتُ الْوُضُوءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى" 

(Nawaitul wudhuu-a liraf'il hadatsil ashghari fardhan lillaahi ta'aalaa), artinya "Saya berniat wudhu untuk menghilangkan hadas kecil fardhu karena Allah Ta'ala".

Pelajaran: Cukup hadirkan niat berwudhu di dalam hati saat memulai.

3. Terburu-buru Saat Berwudhu

Karena alasan antri, ingin cepat shalat, atau sudah terbiasa, sebagian orang berwudhu dengan sangat cepat hingga tidak sempurna. Wudhu adalah ibadah, lakukan dengan tenang dan penuh kesadaran.

Jadi penting untuk menyempurnakan basuhan (terutama tumit, sikut, dan di bawah kuku), disertai niat, dan tenang agar kualitas ibadah lebih baik.

4. Mendahulukan Anggota Kiri Tanpa Alasan

Sunnahnya, membasuh anggota wudhu dimulai dari yang kanan. Namun sebagian orang terbiasa memulai dari kiri tanpa uzur. Biasakan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dengan mendahulukan yang kanan.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika menyisir rambut dan ketika bersuci, juga dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (HR. Bukhari no. 186 dan Muslim no. 268).

5. Berlebihan Menggunakan Air

Sebagian orang mengira semakin banyak air semakin baik. Padahal Rasulullah ﷺ mencontohkan wudhu dengan air yang sangat hemat. Islam mengajarkan kesederhanaan, bahkan dalam berwudhu.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah SAW bertemu Sa'ad pada waktu berwudhu, lalu Rasulullah bersabda, "Alangkah borosnya wudhumu itu hai Sa'ad." Sa'ad berkata, "Apakah di dalam berwudhu ada pemborosan?" Rasulullah SAW bersabda, "Ya, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir." (HR Ibnu Majah)

Penutup

Wudhu bukan hanya membersihkan anggota badan, tetapi juga bagian dari penyucian diri sebelum menghadap Allah SWT. Mari kita perbaiki wudhu kita agar shalat yang kita lakukan benar-benar sah dan bernilai ibadah.

Semoga tulisan singkat ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih memperhatikan wudhu, meskipun terlihat sepele. Karena dari wudhu yang baik, lahir shalat yang khusyuk.



-rosmala

Post a Comment

0 Comments